Dan saat itu memang rasa penasaranku terbayar dengan apa yang disajikan Bumi Belitung. Dan sejak itu pula aku berjanji kepada diriku untuk kembali lagi menikmati keindahan pulau Belitung.
Untuk mencapai Tanjung Pandan ibukota Kabupaten Belitung, Propinsi Bangka-B
elitung (BaBel) melalui udara kita mempunyai 3 opsi penerbangan dari kota Jakarta, yaitu Sriwijaya Air, Linus Airways dan Batavia Air. Dan hari itu aku menggunakan Sriwijaya Air karena memang bermaksud bisa tiba sepagi mungkin di Tanjung Pandan. Namun, seperti kebanyakan perusahaan penerbangan di Indonesia, ketepatan waktu merupakan suatu yang cukup langka. Aku harus menunggu 40 menit dari waktu keberangkatan seharusnya.
Tepat pukul 07.00 WIB Sriwijaya Air meninggalkan Bandara Internasional Soekarno-Hatta Banten menuju Bandara Hanandjoeddin Tanjung Pandan. Perjalanan menuju Belitung dengan pesawat udara hanya memerlukan waktu sekitar 45 menit -hal ini sebenarnya menjadi salah satu keunggulan Pulau Belitung bagi wisatawan yang ber-base dari Jakarta- dan sepanjang perjalananku cuaca sangat cerah hari itu.
Pukul 07.50 aku sudah berada di terminal kedatangan Bandara Hanandjoedidn
Tanjung Pandan. Karena disaat yang bersamaan tiba juga pesawat Linus Airways dari Jakarta, maka proses pengambilan bagasi menjadi sangat lambat. Ini karena Bandara dengan kategori C ini hanya mempunyai 2 conveyor belt bagasi yang sangat pendek hingga terjadi penumpukan barang di belt. Belum lagi ruangan baggage claim itu sangat kecil dan penuh dengan penumpang (penjemput bisa dengan sangat bebas memasuki area baggage claim). Ke depan aku memimpikan Bandara Hanandjoedin bisa lebih rapih dan teratur untuk mengantisipasi jumlah kedatangan wisatawan yang makin meningkat.
Setelah bagasiku diambil, aku langsung keluar dan bertemu dengan sobatku Agus "Raja Belitung" Pahlevi. Lelaki berumur 25 tahun ini adalah owner sekaligus guide dan operator "LEVI TOURS & TRAVEL" yang sangat bisa diandalkan untuk menjelejahi Pulau Belitung dengan segala pernak-perniknya. Agus menjadi sobat karibku sejak kunjungan pertamaku ke Pulau Belitung. Agus yang asli Belitung namun menghabiskan pendidikan pariwisatanya di Jogjakarta, benar-benar menguasai Pulau Belitung hingga ke pelosok daerah terpencilnya.
Dengan mengendarai mobil Kijang, kami kemudian menuju Pantai Tanjung Tinggi untuk bersiap-siap melakukan "ISLAND TOUR" yang sudah sangat kurindukan. Dengan mengendarai sebuah perahu motor, kami mulai membelah ketenangan laut biru yang sangat jernih. Aku tidak lupa untuk berganti baju kaos lengan panjang untuk antisipasi tersengat matahari Belitung yang hari itu memang bersinar sangat terik. Sangat disarankan bagi para wisatawan yang berkunjung ke Pulau Belitung
untuk selalu menggunakan Sun Block Cream untuk menjaga agar kulit tidak terkena sengatan matahari. Diatas perahu, kembali aku terkesima dengan kejernihan laut seputar Pulau Belitung. Aku bahkan bisa melihat dasar laut dibawah sana karena jernihnya air laut. Terkadang, ditengah-tengah lajunya perahu, aku melihat ikan terbang berloncatan kesana-kemari mengiringi perahu yang melaju anggun ditengah tenangnya air. Dengan jelas aku bisa melihat ikan-ikan dan ubur-ubur berseliweran di samping perahuku. Sungguh suatu pemandangan yang menakjubkan dan tak terlupakan.
Pemberhentian pertama kami adalah "PULAU BURUNG", sebuah pulau berpasir putih dengan pemandangan spektakuler, air laut yang sangat jernih, teluk yang sangat anggun dan formasi bebatuan yang indah diseputar pulau. Dinamakan Pulau Burung karena terdapa
t sebuah formasi batu yang cukup besar berbentuk kepala dan paruh burung Elang. Tujuh bulan lalu pada kunjungan pertamaku bersama teman-teman dari Asosiasi Profesional Pariwisata Indonesia (ASPPI), pulau ini menjadi pulau yang sangat spesial karena kami semua menikmati keasyikan berenang di pantai berpasir putih. Hingga saat ini kembali aku tak sanggup menahan diri untuk tidak berenang di Pulau Burung. Apakah itu sendiri ataukah beramai-ramai, pantai Pulau Burung selalu menawarkan fenomena yang unik, membawa suatu aura khas untuk kita bersatu dengan alam, pantai dan lautnya. Benar-benar suatu tempat yang luar biasa.
Setelah puas berenang di Pulau Burung, perahu kami kembali membelah laut jernih yang tenang, menuju ke Pulau Lengkuas. Sebuah pulau yang sangat special, indah karena putihnya pasir di pantai, formasi bebatuan yang luar biasa diseputar pulau, air laut yang sangat jernih untuk melakuka
n kegiatan snorkeling dan yang terutama terkenal karena menjulangnya sebuah menara Mercusuar setinggi lebih dari 100 meter ditengah pulau. Menara Mercusuar ini merupakan bekas peninggalan jaman kolonial Belanda. Dibangun pada tahun 1882 dimana bagian-bagian Mercusuar ini dikerjakan di Birmingham, Inggris oleh perusahaan Chance Brothers & Co. Di pulau ini kembali aku berenang, snorkeling bahkan menyelam menikmati keindahan biota laut. Tujuh bulan yang lalu ketika aku mengunjungi Pulau Lengkuas, keadaan sangat sepi, tidak ada pengunjung lain selain rombongan kami dari ASPPI. Namun sekarang berbeda, tidak kurang aku menghitung ada 5 group yang berbeda di saat bersamaan datang mengunjungi dan menikmati keindahan pulau ini. Rupanya wisata di Belitung sudah mulai menggeliat. Senang rasanya melihat turis-turis baik domestik maupun manca negara datang mengunjungi pulau ini.
Ada satu hal baru yang disajikan Agus di Pulau Lengkuas kali ini. Makan siang di pinggir pantai dengan menu ikan bakar hasil tangkapan sendiri, ditambah sayur tumis kangkung cah bawang putih ... dan semuanya dimasak oleh si Raja Belitung !!! Dari sebuah ruangan di bawah Mercusuar yang disulap menjadi dapur, Agus memamerkan keahliannya memasak untuk tamu-tamunya. Suasana pantai pun lebih terasa ketika kita sama-sama menyantap ikan laut segar dengan daging yang manis rasanya, dibakar dengan bumbu rahasia dari
Agus .. !!! Belum selesai lho .. kita kemudian disajikan minuman kelapa muda langsung dari pohonnya .. !! This is new and this is very good !!! Sambil bersantap siang aku melihat ke seputar pantai berpasir putih, terlihat banyak orang bersnorkeling disana sini, beberapa turis Eropa sedang berjemur menghitamkan kulitnya, ada sekelompok besar ibu-ibu yang bersantap siang di bawah rerimbunan pohon kelapa ... Sungguh, teramat kontras dengan pemandangan tujuh bulan yang lalu ketika saat itu hanya kami yang ada di Pulau Lengkuas ... Ini menandakan program promosi yang dilakukan pemerintah propinsi Bangka Belitung sudah mulai menampakkan hasilnya.
Pemberhentian pertama kami adalah "PULAU BURUNG", sebuah pulau berpasir putih dengan pemandangan spektakuler, air laut yang sangat jernih, teluk yang sangat anggun dan formasi bebatuan yang indah diseputar pulau. Dinamakan Pulau Burung karena terdapa
Setelah puas berenang di Pulau Burung, perahu kami kembali membelah laut jernih yang tenang, menuju ke Pulau Lengkuas. Sebuah pulau yang sangat special, indah karena putihnya pasir di pantai, formasi bebatuan yang luar biasa diseputar pulau, air laut yang sangat jernih untuk melakuka
Ada satu hal baru yang disajikan Agus di Pulau Lengkuas kali ini. Makan siang di pinggir pantai dengan menu ikan bakar hasil tangkapan sendiri, ditambah sayur tumis kangkung cah bawang putih ... dan semuanya dimasak oleh si Raja Belitung !!! Dari sebuah ruangan di bawah Mercusuar yang disulap menjadi dapur, Agus memamerkan keahliannya memasak untuk tamu-tamunya. Suasana pantai pun lebih terasa ketika kita sama-sama menyantap ikan laut segar dengan daging yang manis rasanya, dibakar dengan bumbu rahasia dari
Pemberhentian selanjutnya adalah Pulau Batu Belayar ... sebuah pulau yang terbentuk dari gugusan be
batuan vulkanik dan salah satu batunya secara dramatis membentuk sebuah layar kapal ... ini adalah salah satu spot untuk foto yang terbaik di seputar pantai Pulau Belitung. Kombinasi antara pasir putih dengan bebatuan berbagai ukuran dan bentuk menciptakan angle-angle bagus untuk membuat foto ..
bahkan untuk fotografer amatir seperti saya .. hehehe. Pulau Batu Belayar juga sangat bagus untuk snorkeling karena air laut yang tidak dalam di sekeliling pantai dengan berbagai macam ikan laut yang berwarna-warni. Di Pulau Batu Belayar ini salah seorang kru perahu berhasil menyelam dan menemukan sebuah kerang mutiara yang sangat besar dalam kondisi yang masih hidup. Juga berbagai bentuk keong laut, dan bintang laut yang besar-besar. Setelah mengambil beberapa gambar yang luar biasa indah kami kemudian melanjutkan kembali penjelajahan keindahan laut pantai Belitung ke pulau yang lain.
Agus kemudian membawa aku ke sebuah spot baru di tengah gugusan pulau-pulau indah ini. Namanya adalah Pulau Pasir. Disebut seperti itu karena pulau berukuran tak lebih dari 10 x 10 meter persegi ini hanya terdiri dari hamparan pasir putih tanpa pohon, ba
tu atau apapun diatasnya ... Dan pulau ini hanya muncul apabila air laut surut terutama di sore hari .. Hal luar biasa yang aku temui di Pulau Pasir ini adalah kumpulan beratus-ratus bintang laut raksasa yang akhirnya dijadikan obyek foto bagi kami semua. Saat yang bersamaan teman-teman backpackers yang baru aku kenal di Pulau Lengkuas juga merapat di Pulau Pasir ini, sehingga semakin ramai suasana. Dan bak foto model bergayalah mereka semua dengan pose yang bermacam-macam, dengan latar belakang laut jernih dan hamparan bintang laut yang memang sengaja dikumpulkan dari tepi pantai ke atas pulau ... sungguh suatu pemandangan indah yang tak terlupakan.
Itulah akhir dari hanya sedikit yang bisa anda saksikan dan lakukan di Pulau Belitung. Masih banyak daerah dan obyek wisata lain disini, termasuk juga wisata kuliner (Mie Belitung ueeennnaaakkk tenannn .... maknyuuuuusssss).
Apabila anda ingin mendapat informasi lebih lanjut dan juga ingin melakukan reservasi untuk paket-paket ke Pulau Belitung, anda dapat menghubungi Alika Travel Expert. Sampai jumpa di laporan perjalanan wisata lainnya ....
Alika Travel Expert ~ Your Profesional Travel Expert !!!
Apabila anda ingin mendapat informasi lebih lanjut dan juga ingin melakukan reservasi untuk paket-paket ke Pulau Belitung, anda dapat menghubungi Alika Travel Expert. Sampai jumpa di laporan perjalanan wisata lainnya ....
Alika Travel Expert ~ Your Profesional Travel Expert !!!
